s/d 13 Juli 2026, 21:00
PONTIANAK
KAL-BAR
Tentang Event
Alhamdulillah rangkaian acara Jaltsatul Itsnain berjalan dengan khidmat.
Dalam Jaltsatul Itsnain malam ini diawali dengan pembacaan Diyaullami' lalu di lanjutkan dengan pembacaan Hadits dari kitab Mukhtar Hadits lalu di lanjutkan dengan Mauidzotul Hasanah mengenai hadits yang di baca tadi oleh Habib Zaky bin Yahya.
Dalam Mauidzotul Hasanah tersebut Habib Zaky bin Yahya menjelaskan beberapa poin penting dari hadits tentang niat :
1. Niat Sebagai Penentu Kualitas Amal
(Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya) memberikan dua pemahaman utama: Sah atau tidaknya amal: Secara syariat, suatu ibadah (seperti shalat atau puasa) dianggap tidak sah jika tidak disertai niat.
Diterima atau tidaknya amal: Sebuah perbuatan baik bisa menjadi sia-sia di mata Allah jika niatnya bukan karena Allah (misalnya karena ingin dipuji/riya).
2. Balasan Sesuai dengan Apa yang Dituju
Dalam Hadits tersebut menegaskan bahwa setiap orang akan mendapatkan balasan yang tepat sesuai dengan apa yang ia niatkan.
• Jika seseorang berniat ikhlas karena Allah, ia mendapat pahala.
• Jika ia melakukan amal ibadah namun niatnya hanya untuk kepentingan duniawi, maka ia hanya akan mendapatkan dunia tersebut tanpa pahala di akhirat.
• Contoh Konkretnya ialah Rasulullah SAW memberikan perbandingan melalui peristiwa Hijrah: Hijrah karena Allah dan Rasul-Nya: Orang yang berpindah tempat demi menjaga iman dan mengikuti perintah Allah, maka ia mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Hijrah karena Dunia atau Wanita: Orang yang pindah (hijrah) hanya demi mengejar harta atau ingin menikahi seseorang, maka ia hanya mendapatkan hal tersebut. Nilai spritual hijrahnya hilang karena tujuannya rendah (urusan duniawi semata).
Lalu Habib Zaky menjelaskan Kandungan Pokok dari Hadits tersebut (Pelajaran yang musti di ambil oleh setiap orang) yaitu :Pentingnya memurnikan tujuan hanya untuk mencari ridha Allah (Tauhidul Qashdi) dalam setiap ibadah. Walaupun suatu Perbuatan yang sifatnya mubah (seperti makan atau tidur) bisa bernilai pahala jika diniatkan untuk memperkuat diri dalam beribadah. Dan dalam hadits ini juga sebagai pengingat bagi kita untuk selalu "memeriksa hati" sebelum, saat, dan setelah beramal. Karena Allah tidak hanya melihat apa yang dilakukan oleh tangan kita, tetapi apa yang diinginkan oleh hati kita. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai wajahmu, tetapi Allah melihat keikhlasan hati dan amal kalian”.
Lalu acara di tutup dengan doa oleh Habib Toha bin Husain Al Jufri.